Recent post
Makalah Aqidah Akhlak Tentang Sabar
AQIDAH AkHLAk
“ SABAR “
A. PENDAHULUAN
Kesabaran
adalah salah satu ciri mendasar orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Bahkan
sebagian ulama mengatakan bahwa kesabaran merupakan setengahnya keimanan. Sabar
memiliki kaitan yang tidak mungkin dipisahkan dari keimanan: Kaitan antara
sabar dengan iman, adalah seperti kepala dengan jasadnya. Tidak ada keimanan
yang tidak disertai kesabaran, sebagaimana juga tidak ada jasad yang tidak
memiliki kepala. Sabar juga memiliki dimensi untuk merubah sebuah kondisi, baik
yang bersifat pribadi maupun sosial, menuju perbaikan agar lebih baik dan baik
lagi. Bahkan seseorang dikatakan dapat dikatakan tidak sabar, jika ia menerima
kondisi buruk, pasrah dan menyerah begitu saja. Sabar dalam ibadah
diimplementasikan dalam bentuk melawan dan memaksa diri untuk bangkit dari
tempat tidur, kemudian berwudhu lalu berjalan menuju masjid dan malaksanakan
shalat secara berjamaah.
Untuk melaksanakan berbagai kewajiban tentu saja dibutuhkan
bekal kesabaran. Untuk meninggalkan berbagai larangan dibutuhkan bekal
kesabaran. Begitu pula saat menghadapi keputusan takdir kauni (yang menyakitkan)
tentu juga diperlukan bekal kesabaran. Karena amat sedikitnya dijumpai orang yang sanggup
bersabar tatkala tertimpa musibah.Maka
disini akan menjelaskan bahwasanya sabar termasuk
bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus
ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir
Allah.
Ungkapan rasa marah dan
tak mau sabar yang banyak muncul dalam
diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa ditimpakannya musibah. Dengan alasan itulah maka akan diterangkan bahwa sabar adalah hal yang wajib dilakukan tatkala tertimpa takdir
yang terasa menyakitkan. Dengan hal itu juga kami ingin memberikan
penegasan bahwa bersabar dalam rangka menjalankan ketaatan dan meninggalkan
kemaksiatan hukumnya juga wajib.
B. DEFINISI
Pengertian Sabar
Sabar berasal dari bahasa Arab dari akar SHABARA (صَبَرَ), hanya tidak yang berada dibelakang hurufnya karena ia tidak bias berdiri sendiri. Shabara’ala (صَبَرَ عَلَى) berarti bersabar atau tabah hati, shabara’an (صَبَرَ عَنْ) berarti memohon atau mencegah, shabarabihi (صَبَرَ بِهِ) berarti menanggung.
Sabar berasal dari bahasa Arab dari akar SHABARA (صَبَرَ), hanya tidak yang berada dibelakang hurufnya karena ia tidak bias berdiri sendiri. Shabara’ala (صَبَرَ عَلَى) berarti bersabar atau tabah hati, shabara’an (صَبَرَ عَنْ) berarti memohon atau mencegah, shabarabihi (صَبَرَ بِهِ) berarti menanggung.
Ash-Shabr (sabar) secara bahasa
artinya al-habsu (menahan), dan di antara yang menunjukkan pengertiannya secara
bahasa adalah ucapan: "qutila shabran" yaitu dia terbunuh dalam
keadaan ditahan dan ditawan. Sedangkan secara
syari'at adalah menahan diri atas tiga perkara: yang pertama: (sabar) dalam
mentaati Allah, yang kedua: (sabar) dari hal-hal yang Allah haramkan, dan yang
ketiga: (sabar) terhadap taqdir Allah yang menyakitkan.
Sabar dalam bahasa Indonesia
berarti : Pertama, tahan menghadapi cobaan seperti tidak lekas marah, tidak
lekas putus asa dan tidak lekas patah hati, sabar dengan pengertian sepeti ini
juga disebut tabah, kedua sabar berarti tenang; tidak tergesa-gesa dan tidak
terburu-buru. Dalam kamus besar Ilmu Pengetahuan, sabar merupakan istilah agama
yang berarti sikap tahan menderita, hati-hati dalam bertindak, tahan uji dalam
mengabdi mengemban perintah-peintah Allah serta tahan dari godaan dan cobaan
duniawi Aktualisasi pengertian ini sering ditunjukan oleh para sufi.
Dalam pendekatan ilmu Fikih, sabar didefinisikan sebagai tabah, yakni dapat menahan diri dari melakukan hal-hal yang bertentangan dengan huum Islam, baik dalam keadaan lapang maupun sulit, mampu mengendalikan nafsu yang dapat menggoncangkan iman. Menurut Ibnu Qayyim sabar berarti menahan diri dari kelih kesah dan rasa benci, menahan lisan dari mengadu, dan menahan anggota badan dari tindakan yang mengganggu dan mengacaukan.
C. KONSEP SABAR
DALAM AL-QUR’AN DAN HADIST
1.
Sabar Dalam Al-Qur'an
Sabar Sebagaimana Digambarkan Dalam
Al-Qur'an
Dalam al-Qur'an banyak sekali
ayat-ayat yang berbicara mengenai kesabaran. Jika ditelusuri secara
keseluruhan, terdapat 103 kali disebut dalam al-Qur'an, kata-kata yang
menggunakan kata dasar sabar; baik berbentuk isim maupun fi'ilnya. Hal ini
menunjukkan betapa kesabaran menjadi perhatian Allah SWT, yang Allah tekankan
kepada hamba-hamba-Nya. Dari ayat-ayat yang ada, para ulama mengklasifikasikan
sabar dalam al-Qur'an menjadi beberapa macam;
§ Sabar merupakan
perintah Allah SWT. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam QS.2: 153:
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan
sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
Ayat-ayat
lainnya yang serupa mengenai perintah untuk bersabar sangat banyak terdapat
dalam Al-Qur'an. Diantaranya adalah dalam QS.3: 200, 16: 127, 8: 46, 10:109,
11: 115 dsb.
§ Larangan
isti'ja l(tergesa-gesa/ tidak sabar), sebagaimana yang Allah firmankan (QS.
Al-Ahqaf/ 46: 35): "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang
mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu meminta
disegerakan (azab) bagi mereka…"
§ Pujian Allah
bagi orang-orang yang sabar, sebagaimana yang terdapat dalam QS. 2: 177:
"…dan orang-orang yang bersabar dalam kesulitan, penderitaan dan dalam
peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah
orang-orang yang bertaqwa."
§ Allah SWT
akan mencintai orang-orang yang sabar. Dalam surat Ali Imran (3: 146) Allah SWT
berfirman : "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar."
§ Kebersamaan
Allah dengan orang-orang yang sabar. Artinya Allah SWT senantiasa akan
menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar. Allah berfirman (QS. 8: 46) ; "Dan
bersabarlah kamu, karena sesungguhnya Allah itu beserta orang-orang yang
sabar."
§ Mendapatkan
pahala surga dari Allah. Allah mengatakan dalam al-Qur'an (13: 23 - 24);
"(yaitu) surga `Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan
orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya,
sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;
(sambil mengucapkan): "Salamun `alaikum bima shabartum" (keselamatan
bagi kalian, atas kesabaran yang kalian lakukan). Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu."
Ayat-ayat lain
tentang sabar
Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ
لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian
dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada
Allah supaya kalian beruntung." (Aali 'Imraan:200)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ
الأَمْوَالِ وَالأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
"Dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah:155)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّمَا
يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
"Sesungguhnya
hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa
batas." (Az-Zumar:10)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَلَمَنْ
صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الأُمُورِ
"Tetapi
orang yang bersabar dan mema`afkan sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu
termasuk hal-hal yang diutamakan." (Asy-Syuuraa:43)
Dan Allah Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
"Hai
orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
(mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
(Al-Baqarah:153)
Dan Allah
Ta'ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ
"Dan
sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui
orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian." (Muhammad:31)
2. Sabar Dalam Hadist
Kesabaran Sebagaimana Digambarkan
Dalam Hadits
Sebagaimana dalam al-Qur'an, dalam hadits juga banyak sekali sabda-sabda Rasulullah SAW yang menggambarkan mengenai kesabaran. Dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi mencantumkan 29 hadits yang bertemakan sabar. Secara garis besar, hadits-hadits tersebut menggambarkan kesabaran sebagai berikut;
a.
Kesabaran merupakan "dhiya' " (cahaya yang
amat terang). Karena dengan kesabaran inilah, seseorang akan mampu menyingkap
kegelapan. Rasulullah SAW mengungkapkan, "…dan kesabaran merupakan cahaya
yang terang…" (HR. Muslim)
b.
Kesabaran merupakan sesuatu yang perlu diusahakan dan
dilatih secara optimal. Rasulullah SAW pernah menggambarkan: "…barang
siapa yang mensabar-sabarkan diri (berusaha untuk sabar), maka Allah akan
menjadikannya seorang yang sabar…" (HR. Bukhari)
c.
Kesabaran merupakan anugrah Allah yang paling baik.
Rasulullah SAW mengatakan, "…dan tidaklah seseorang itu diberi sesuatu
yang lebih baik dan lebih lapang daripada kesabaran." (Muttafaqun Alaih).
d.
Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri
orang mu'min, sebagaimana hadits yang terdapat pada muqadimah; "Sungguh
menakjubkan perkara orang yang beriman, karena segala perkaranya adalah baik.
Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur karena (ia mengatahui) bahwa hal
tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau
kesulitan, ia bersabar karena (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik
baginya." (HR. Muslim).
e.
Seseorang yang sabar akan mendapatkan pahala surga.
Dalam sebuah hadits digambarkan; Dari Anas bin Malik ra berkata, bahwa aku
mendengar Rasulullah SAW bersabda, Sesungguhnya Allah berfirman, "Apabila
Aku menguji hamba-Ku dengan kedua matanya, kemudian diabersabar, maka aku
gantikan surga baginya." (HR. Bukhari)
f.
Sabar merupakan sifat para nabi. Ibnu Mas'ud dalam
sebuah riwayat pernah mengatakan: Dari Abdullan bin Mas'ud
berkata"Seakan-akan aku memandang Rasulullah SAW menceritakan salah
seorang nabi, yang dipukuli oleh kaumnya hingga berdarah, kemudia ia mengusap
darah dari wajahnya seraya berkata, 'Ya Allah ampunilah dosa kaumku, karena
sesungguhnya mereka tidak mengetahui." (HR. Bukhari)
g.
Kesabaran merupakan ciri orang yang kuat. Rasulullah
SAW pernah menggambarkan dalam sebuah hadits; Dari Abu Hurairah ra berkata,
bahwa Rasulullah SAW bersabda,"Orang yang kuat bukanlah yang pandai
bergulat, namun orang yang kuat adalah orang yang memiliki jiwanya ketika
marah." (HR. Bukhari)
h.
Kesabaran dapat menghapuskan dosa. Rasulullah SAW menggambarkan
dalam sebuah haditsnya; Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullan SAW bersabda,
"Tidaklah seorang muslim mendapatkan kelelahan, sakit, kecemasan,
kesedihan, mara bahaya dan juga kesusahan, hingga duri yang menusuknya,
melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengan hal tersebut." (HR.
Bukhari & Muslim)
i.
Kesabaran merupakan suatu keharusan, dimana seseorang
tidak boleh putus asa hingga ia menginginkan kematian. Sekiranya memang sudah
sangat terpaksa hendaklah ia berdoa kepada Allah, agar Allah memberikan hal
yang terbaik baginya; apakah kehidupan atau kematian. Rasulullah SAW
mengatakan; Dari Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Janganlah salah seorang diantara kalian mengangan-angankan datangnya
kematian karena musibah yang menimpanya. Dan sekiranya ia memang harus
mengharapkannya, hendaklah ia berdoa, 'Ya Allah, teruskanlah hidupku in
j.
sekiranya hidup itu lebih baik unttukku. Dan
wafatkanlah aku, sekiranya itu lebih baik bagiku." (HR. Bukhari Muslim)
D. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
1. Jenis-jenis Sabar
Jenis sabar yang pertama :
yaitu hendaknya manusia bersabar
terhadap ketaatan kepada Allah, karena sesungguhnya ketaatan itu adalah sesuatu
yang berat bagi jiwa dan sulit bagi manusia. Memang demikianlah kadang-kadang
ketaatan itu menjadi berat atas badan sehingga seseorang merasakan adanya
sesuatu dari kelemahan dan keletihan ketika melaksanakannya. Demikian juga
padanya ada masyaqqah (sesuatu yang berat) dari sisi harta seperti masalah
zakat dan masalah haji.
Yang penting, bahwasanya ketaatan-ketaatan itu padanya
ada sesuatu dari masyaqqah bagi jiwa dan badan, sehingga butuh kepada kesabaran
dan kesiapan menanggung bebannya, Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا
وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Hai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian
dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada
Allah supaya kalian beruntung." (Aali 'Imraan:200)
Allah juga berfirman
وَأْمُرْ أَهْلَكَ
بِالصَّلاَةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا
"Dan
perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam
mengerjakannya." (Thaahaa:132)
إِنَّا
نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْءَانَ تَنْزِيلاً(23) فَاصْبِرْ لِحُكْمِ
رَبِّكَ
"Sesungguhnya
Kami telah menurunkan Al Qur'an kepadamu (hai Muhammad) dengan
berangsur-angsur. Maka bersabarlah kamu
untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (Al-Insaan:23-24).
Ayat ini menerangkan tentang sabar dalam
melaksanakan perintah-perintah, karena sesungguhnya Al-Qur`an itu turun
kepadanya agar beliau (Rasulullah) menyampaikannya (kepada manusia), maka
jadilah beliau orang yang diperintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan
ketaatan.
Dan Allah Ta'ala berfirman:
وَاصْبِرْ
نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ
يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
"Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (Al-Kahfi:28)
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Ini adalah sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Jenis sabar yang kedua:
yaitu bersabar dari hal-hal yang Allah
haramkan sehingga seseorang menahan jiwanya dari apa-apa yang Allah haramkan
kepadanya, karena sesungguhnya jiwa yang cenderung kepada kejelekan itu akan
menyeru kepada kejelekan, maka manusia perlu untuk mengekang dan mengendalikan
dirinya, seperti berdusta, menipu dalam bermuamalah, memakan harta dengan cara
yang bathil, dengan riba dan yang lainnya, berbuat zina, minum khamr, mencuri
dan lain-lainnya dari kemaksiatan-kemaksiatan yang sangat banyak.
Maka kita harus menahan diri kita
dari hal-hal tadi jangan sampai mengerjakannya dan ini tentunya perlu kesabaran
dan butuh pengendalian jiwa dan hawa nafsu. Di antara contoh dari jenis sabar
yang kedua ini adalah sabarnya Nabi Yusuf 'alaihis salaam dari ajakan istrinya
Al-'Aziiz (raja Mesir) ketika dia mengajak (zina) kepadanya di tempat milik
dia, yang padanya ada kemuliaan dan kekuatan serta kekuasaan atas Nabi Yusuf,
dan bersamaan dengan itu Nabi Yusuf bersabar dan berkata:
قَالَ رَبِّ
السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي
كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
"Yusuf
berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan
mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipu daya mereka,
tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku
termasuk orang-orang yang bodoh." (Yuusuf:33).
Maka ini adalah kesabaran dari kemaksiatan kepada Allah.
v Jenis sabar yang ketiga:
yaitu sabar
terhadap taqdir Allah yang menyakitkan (menurut pandangan manusia). Karena
sesungguhnya taqdir Allah 'Azza wa Jalla terhadap manusia itu ada yang bersifat
menyenangkan dan ada yang bersifat menyakitkan. Taqdir yang bersifat menyenangkan:
maka butuh rasa syukur, sedangkan syukur itu sendiri termasuk dari ketaatan,
sehingga sabar baginya termasuk dari jenis yang pertama (yaitu sabar dalam
melaksanakan ketaatan kepada Allah). Sedangkan taqdir yang bersifat menyakitkan:
yaitu yang tidak menyenangkan manusia, seperti seseorang yang diuji pada
badannya dengan adanya rasa sakit atau yang lainnya, diuji pada hartanya –yaitu
kehilangan harta-, diuji pada keluarganya dengan kehilangan salah seorang
keluarganya ataupun yang lainnya dan diuji di masyarakatnya dengan difitnah,
direndahkan ataupun yang sejenisnya.
Yang penting bahwasanya macam-macam ujian itu sangat banyak yang butuh akan
adanya kesabaran dan kesiapan menanggung bebannya, maka seseorang harus menahan
jiwanya dari apa-apa yang diharamkan kepadanya dari menampakkan keluh kesah
dengan lisan atau dengan hati atau dengan anggota badan.
Allah berfirman:
Allah berfirman:
فَاصْبِرْ
لِحُكْمِ رَبِّكَ
"Maka bersabarlah kamu untuk
(melaksanakan) ketetapan Tuhanmu." (Al-Insaan:24) Maka masuk dalam ayat
ini yaitu hukum Allah yang bersifat taqdir.
Dan di antara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
Dan di antara ayat yang menjelaskan jenis sabar ini adalah firman Allah:
فَاصْبِرْ
كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ
"Maka
bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari
rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi
mereka." (Al-Ahqaaf:35)
Ayat ini
menerangkan tentang kesabaran para rasul dalam menyampaikan risalah dan dalam
menghadapi gangguan kaumnya.
Dan juga di antara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
Dan juga di antara jenis sabar ini adalah ucapan Rasulullah kepada utusan salah seorang putri beliau:
مُرْهَا
فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ
"Perintahkanlah
kepadanya, hendaklah bersabar dan mengharap pahala kepada Allah (dalam
menghadapi musibah tersebut)." (HR. Al-Bukhariy no.1284 dan Muslim no.923)
2. Kiat-Kiat Untuk Meningkatkan Kesabaran
Ketidaksabaran
(baca; isti'jal) merupakan salah satu penyakit hati, yang seyogyanya
diantisipasi dan diterapi sejak dini. Karena hal ini memilki dampak negatif
dari amalan yang dilakukan seorang insan. Seperti hasil yang tidak maksimal,
terjerumus kedalam kemaksiatan, enggan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah
dsb. Oleh karena itulah, diperlukan beberapa kiat, guna meningkatkan kesabaran.
Diantara kiat-kiat tersebut adalah;
a.
Mengkikhlaskan niat kepada Allah SWT, bahwa ia
semata-mata berbuat hanya untuk-Nya. Dengan adanya niatan seperti ini, akan
sangat menunjang munculnya kesabaran kepada Allah SWT.
b.
Memperbanyak tilawah (baca; membaca) al-Qur'an, baik
pada pagi, siang, sore ataupun malam hari. Akan lebih optimal lagi manakala
bacaan tersebut disertai perenungan dan pentadaburan makna-makna yang dikandungnya.
Karena al-Qur'an merupakan obat bagi hati insan. Masuk dalam kategori ini juga
dzikir kepada Allah.
c.
Memperbanyak puasa sunnah. Karena puasa merupakan hal yang dapat mengurangi
hawa nafsu terutama yang bersifat syahwati dengan lawan jenisnya. Puasa juga
merupakan ibadah yang memang secara khusus dapat melatih kesabaran.
d. Mujahadatun Nafs, yaitu sebuah usaha yang
dilakukan insan untuk berusaha secara giat dan maksimal guna mengalahkan
keinginan-keinginan jiwa yang cenderung suka pada hal-hal negatif, seperti
malas, marah, kikir, dsb.
f. Mengingat-ingat kembali tujuan hidup di
dunia. Karena hal ini akan memacu insan untuk beramal secara sempurna.
Sedangkan ketidaksabaran (isti'jal), memiliki prosentase yang cukup besar untuk
menjadikan amalan seseorang tidak optimal. Apalagi jika merenungkan bahwa
sesungguhnya Allah akan melihat "amalan" seseorang yang dilakukannya,
dan bukan melihat pada hasilnya. (Lihat QS. 9 : 105).
g. Perlu mengadakan latihan-latihan untuk sabar
secara pribadi. Seperti ketika sedang sendiri dalam rumah, hendaklah dilatih
untuk beramal ibadah dari pada menyaksikan televisi misalnya. Kemudian melatih
diri untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk infaq fi sabilillah, dsb.
h. Membaca-baca kisah-kisah kesabaran para
sahabat,tabi'in maupun tokoh-tokoh Islam lainnya. Karena hal ini juga akan
menanamkan keteladanan yang patut dicontoh dalam kehidupan nyata di dunia.
Adapun manfaat dan hikmah sabar yang lainnya :
Sabar memiliki banyak manfaat dan hikmahnya, di antaranya sebagai berikut :
Sabar memiliki banyak manfaat dan hikmahnya, di antaranya sebagai berikut :
1.
Sabar Sebagai Penolong
Kesabaran
bisa menjadi penolong yang akan menyelamatkan seseorang dari bahaya, baik
bahaya dunia terlebih lagi bahaya akhirat. Contoh kecilnya misalnya di dalam berkendaraan.
Betapa pun
ia terburu-buru, ia tetap mengemudikan kendaraannya dengan penuh kehati-hatian
dan sesuai aturan. Saat lampu lalu lintas berwarna merah, ia pun berhenti
dengan rela, saat di dalam kota, kendaraan pun diperlamban, tidak melebihi 40
atau 50 km/jam. Ia tetap menghargai hak-hak kendaraan lain yang ada di depan
maupun di belakang, termasuk memberi kesempatan kepada pejalan kaki atau
pengguna sepeda.
Jika kesabaran demikian yang dipraktikkan
setiap pengendara kendaraan bermotor, maka Insya Allah ia akan selamat dari
kecelakaan, ia selamat dari kejaran polisi karena tidak mengebut di dalam kota
sampai melampaui batas kecepatan, dan orang lain pun akan selamat dari ulahnya
kalau saja ia tidak sabar akibat terlalu cepat.
2. Pembawa Keberuntungan
Setiap
manusia normal pasti menginginkan keberuntungan. Seorang yang sedang berdagang,
ia menginginkan dapat memperoleh laba yang banyak dari dagangannya. Seorang
siswa, pelajar atau mahasiswa, ia menginginkan keberuntungan dengan kelulusan
dari studinya, baik keberuntungan dalam arti naik kelas, naik tingkat, atau
lulus plus karena memperoleh nilai yang exelence.
Sebagaimana
tersurat dalam firman Allah SWT berikut, “Hai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan
bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS Ali Imran [3]: 200).
Tak ada yang
perlu diragukan dari janji Allah SWT, karena Allah tak pernah dan tak akan
pernah mengingkari janji-Nya. Tak ada yang perlu dibimbangkan lagi dari
keberuntungan bagi orang-orang beriman yang sabar dan bertakwa, keberuntungan
itu pasti datang, pasti akan mereka terima, baik di dunia maupun di akhirat.
Kalau tidak di dunia, pasti di akhirat, asal mereka benar-benar beriman dan
benar-benar sabar.
3. Mendatangkan Keuntungan yang Besar
Orang
berdagang, lalu untung, itu biasa. Tapi, kalau pedagang yang beruntung besar,
nah ini pantas menjadi berita. Inilah yang dinyatakan Allah SWT dalam Al-Qur`an
bahwa keuntungan yang besar akan dapat diraih oleh hamba-hamba-Nya yang sabar.
Sabar di
dalam menjalankan perintah Allah SWT dan ajaran Rasulullah saw, meskipun
keadaannya dalam kesulitan. Tetap kokoh dalam menjauhi semua yang dilarang oleh
Allah dan Rasul-Nya, serta tahan uji terhadap segala cobaan.
Dengan
demikian, bersabarlah. Niscaya kesabaran akan menjemput Anda ke tempat terbaik.
Terbaik dalam peruntungan, hasil, dan tindakan. Sampai akhirnya Anda akan
mereguk kenikmatan abadi di akhirat kelak.
E.
PENUTUP
Pembahasan
tentang sabar yang kami bahas hanyalah pokok-pokoknya saja yaitu tentang
pengertian sabar, konsep sabar dalam al-qur’an dan hadist, jenis-jenis sabar
dan manfaat sabar. Pada intinya, bahwa sabar merupakan salah satu sifat
dan karakter orang mu'min, yang sesungguhnya sifat ini dapat dimiliki oleh
setiap insan. Karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk mengembangkan
sikap sabar ini dalam hidupnya.
Sabar tidak identik dengan kepasrahan dan menyerah pada kondisi yang ada,
atau identik dengan keterdzoliman. Justru sabar adalah sebuah sikap aktif,
untuk merubah kondisi yang ada, sehingga dapat menjadi lebih baik dan baik
lagi. Oleh karena itulah, marilah secara bersama kita berusaha untuk menggapai
sikap ini. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi hamba-hamba-Nya yang
berusaha di jalan-Nya.
Mudah-mudahan apa yang telah kami
sajikan dalam pembahasan tentang sabar yang sederhana ini dapat mendorong
pembaca untuk melakukan kajian yang lebih luas dan mendalam lagi tentang
pembahasan sabar diatas. Selanjutkan kami mengharapkan dan berterima kasih
sekali jika para pembaca berkenan memberikan saran, kritik dan masukan kepada
kami untuk perbaikan dan penyempurnaan makalah kami pada masa yang akan datang.
Akhirnya kami mengucapkan terima
kasih setulusnya kepada para Ulama, Pakar, dan siapa saja yang buku-bukunya dijadikan
rujukan, pebandingan, dan bahan bacaan. Semoga Allah SWT memberi balasan pahala
yang berlimpat ganda. Amiin.MAKALAH TENTANG ETOS KERJA
20 Oktober 2014
BAB 1
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang Masalah
Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan.
Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat
tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja
dan hakikat bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal.
Dengan kata lain, kerja yang merupakan bagian dari amal tak lepas dari
kaitan iman seseorang. Idealnya, semakin tinggi iman itu maka semangat
kerjanya juga tidak rendah. Ungkapan iman sendiri berkaitan tidak hanya
dengan hal-hal spiritual tetapi juga program aksi.
Dalam kehidupan sehari-hari sebagai umat Islam selain diperintahkan
untuk beribadah Allah memerintahkan untuk bekerja (berusaha).
Bekerja merupakan melakukan suatu kegiatan demi mencapai tujuan, selain
mencari rezeki namun juga cita-cita. Dalam bekerja diwajibkan memilih
pekerjaan yang baik dan halal, karena tidak semua pekerjaan itu diridhai
Allah SWT.
Di dalam Al-Qur’an dan Hadist sudah jelas tentang pekerjaan yang baik
dan bagaimana kita memperoleh rezeki dengan cara yang diridhai Allah
SWT. Hal ini sangat penting sekali dibahas, karena semua orang dunia ini
pasti membutuhkan makanan, sandang maupun papan. Disini pasti manusia
berlomba-lomba atau memenuhi kebutuhannya tersebut dengan bekerja untuk
mendapatkan yang diinginkan sehingga kita juga harus tahu, bahwa semua
yang kita dapatkan semuanya dari Allah SWT dan itu semua hanya titipan
Allah SWT semata. Sebagai umatnya diwajibkan mengembangkannya dengan
baik dan hati-hati. Untuk itu Hadist tentang Etos Kerja ini sangat diperlukan demi kelangsungan umat sehari-hari.
- B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka pemakalah merumskan
masalah yang akan di bahas dalam makalah ini antara lain sebagai
berikut:
- Apa Redaksi Hadist mengenai Etos Kerja Seorang Muslim?
- Bagaimana Penjelasan Mengenai Hadist Etos Kerja?
- Bagaimana Aspek – aspek pekerjaan dalam Islam?
- Bagaimana ciri –ciri etos kerja dalam Islam?
- Bagaimana Etika Kerja dalam Islam?
BAB 2
PEMBAHASAN
- A. Redaksi Hadis
حد يث أ بي هريرة رضي ا الله عنه قل: قل رسول ا لله صلى ا
لله عليه وسلم: لأن يحتطب احدكم حز مة على ظهره خير من أن يسأل احدا فيعطيه
او يمنعه
Abu hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Jika seseorang
itu pergi mencari kayu, lalu di angkat seikat kayu di atas punggungnya
(yakni untuk di jual di pasar) maka itu lebih baik baginya daripada
minta kepada seseorang baik di beri atau di tolak” (H.R Bukhari dan Muslim)[1]
- B. Penjelasan Hadis tentang Etos Kerja
Etos kerja ialah suatu sikap jiwa seseorang untuk melaksanakan suatu
pekerjaan dengan perhatian yang penuh. Maka pekerjaaan itu akan
terlaksana dengan sempurna walaupun banyak kendala yang harus diatasi,
baik karena motivasi kebutuhan atau karena tanggung jawab yang tinggi.
Ethos berasal dari bahasa Yunani yang berarti sikap, kepribadian,
watak, karakter serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja
dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat.
Ethos dibentuk oleh berbagai kebiasaan, pengaruh, budaya serta sistem
nilai yang diyakininya. [2]
Dari kata etos ini dikenal pula kata etika yang hamper mendekati pada
pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk
moral sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang
amat kuat untuk mengerjakan sesuati secara optimal lebih baik dan bahkan
berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin.
Etos kerja seorang muslim adalah semangat untuk menapaki jalan lurus,
dalam hal mengambil keputusan pun, para pemimpin harus memegang amanah
terutama para hakim. Hakim berlandaskan pada etos jalan lurus tersebut
sebagaimana Dawud ketika ia diminta untuk memutuskan perkara yang adil
dan harus didasarkan pada nilai-nilai kebenaran, maka berilah keputusan
(hukumlah) di antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari
kebenaran dan tunjuklah (pimpinlah) kami ke jalan yang lurus (QS. Ash
Shaad : 22)
- Aspek Pekerjaan dalam Islam
Aspek pekerjaan dalam Islam meliputi empat hal yaitu :
- 1. Memenuhi kebutuhan sendiri
Islam sangat menekankan kemandirian bagi pengikutnya. Seorang muslim
harus mampu hidup dari hasil keringatnya sendiri, tidak bergantung pada
orang lain. Hal ini diantaranya tercermin dalah hadist berikut :
عن أبي عبد الله الزبير بن العوام رضي الله عنه قال: قال رسول
الله صلى الله عليه وسلم: لأن يأخذ أحدكم أحبله ثم يأتي الجبل، فيأتي
بحزمةٍ من حطبٍ على ظهره فيبيعها، فيكف الله بها وجهه، خيرٌ له من أن يسأل
الناس،أعطوه أو منعوه. رواه البخاري.
Dari Abu Abdillah yaitu az-Zubair bin al-Awwam r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Niscayalah
jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya – untuk
mengikat – lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali – di
negerinya – dengan membawa sebongkokan kayu bakar di atas punggungnya,
lalu menjualnya,kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan
wajahnya – yakni dicukupi kebutuhannya, maka hal yang semacam itu adalah
lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang,
baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya.” (Riwayat Bukhari)
Rasullullah memberikan contoh kemandirian yang luar biasa, sebagai
pemimpin nabi dan pimpinan umat Islam beliau tak segan menjahit bajunya
sendiri, beliau juga seringkali turun langsung ke medan jihad,
mengangkat batu, membuat parit, dan melakukan pekerjaan-pekerjaan
lainnya.
Para sahabat juga memberikan contoh bagaimana mereka bersikap
mandiri, selama sesuatu itu bisa dia kerjakan sendiri maka dia tidak
akan meminta tolong orang lain untuk mengerjakannya. Contohnya, ketika
mereka menaiki unta dan ada barangnya yang jatuh maka mereka akan
mengambilnya sendiri tidak meminta tolong lain.
- Memenuhi kebutuhan keluarga
Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang menjadi tanggungannya
adalah kewajian bagi seorang muslim, hal ini bisa dilihat dari hadist
berikut :
قال رسول الله(صلى الله عليه وسلم):” كفى بالمرء إثماً أن يضيع
من يقوت” رواه أحمد وأبو داود وصححه الحاكم وأقره الذهبي من حديث عبدالله
ابن عمرو بن العاص.
Rasulullah saw bersabada, “Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya”. (HR. Ahmad, Abu Daud dan al-Hakim)
Menginfaqkan harta bagi keluarga adalah hal yang harus diutamakan,
baru kemudian pada lingkungan terdekat, dan kemudian lingkungan yang
lebih luas.
- Kepentingan seluruh makhluk
Pekerjaan yang dilakukan seseorang bisa menjadi sebuah amal jariyah baginya, sebagaimana disebutkan dalam hadist berikut :
عن أنس قال النبي صلى الله عليه وسلم : ” ما من مسلم يغرس غرسا أو يزرع زرعا فيأكل منه طير أو إنسان أو بهيمة إلا كان له به صدقة “
Dari Anas, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang mukmin
menanam tanaman, atau menabur benih, lalu burung atau manusia atau hewan
pun makan darinya kecuali pasti bernilai sedekah baginya”. (HR Bukhari)
Dalam era modern ini banyak sekali pekerjaan kita yang bisa bernilai
sebagai amal jariyah. Misalnya kita membuat aplikasi atau tekhnologi
yang berguna bagi umat manusia. Karenanya umat Islam harus cerdas agar
bisa menghasilkan pekerjaan-pekerjaan yang bernilai amal jariyah.
- 4. Bekerja sebagai wujud penghargaan terhadap pekerjaan itu sendiri
Islam sangat menghargai pekerjaan, bahkan seandainya kiamat sudah
dekat dan kita yakin tidak akan pernah menikmati hasil dari pekerjaan
kita, kita tetap diperintahkan untuk bekerja sebagai wujud penghargaan
terhadap pekerjaan itu sendiri. Hal ini bisa dilihat dari hadist berikut
:
عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : ” إن قامت الساعة و في يد أحدكم فسيلة , فإن استطاع أن لا تقوم حتى يغرسها فليغرسها ”
Dari Anas RA, dari Rasulullah saw, beliau bersabda, “Jika hari kiamat terjadi, sedang di tanganmu terdapat bibit tanaman, jika ia bisa duduk hingga dapat menanamnya, maka tanamlah “ (HR Bukhari dan Muslim).[3]
- D. Ciri – Ciri Etos Kerja Islami
Dan dalam batas-batas tertentu, ciri-ciri etos kerja islami dan
ciri-ciri etos kerja tinggi pada umumnya banyak keserupaannya, utamanya
pada dataran lahiriahnya. Ciri-ciri tersebut antara lain :
- 1. Baik dan Bermanfaat
Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan
bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai
tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun
kelompok.
- 2. Kemantapan atau perfectness
Kualitas kerja yang mantap atau perfect merupakan sifat
pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan
yang islami yang berarti pekerjaan mencapai standar ideal secara teknis.
Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih.
- 3. Kerja Keras, Tekun dan Kreatif.
Kerja keras, yang dalam Islam diistilahkan dengan mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”, yakni
mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan
setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi
serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah
menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan, tinggal peran
manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara
optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai.
- 4. Berkompetisi dan Tolong-menolong
Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas
amal shalih. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan
Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah, seperti “fastabiqul khairat” (maka,
berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan. Oleh karena dasar
semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah
serta amal shalih, maka wajah persaingan itu tidaklah seram; saling
mengalahkan atau mengorbankan. Akan tetapi, untuk saling membantu (ta’awun).
- 5. Objektif (Jujur)
Sikap ini dalam Islam diistilahkan dengan shidiq, artinya
mempunyai kejujuran dan selalu melandasi ucapan, keyakinan dan amal
perbuatan dengan nilai-nilai yang benar dalam Islam. Tidak ada
kontradiksi antara realita dilapangan dengan konsep kerja yang ada.
Dalam dunia kerja dan usaha kejujuran ditampilakan dalam bentuk
kesungguhan dan ketepatan, baik ketepatan waktu, janji, pelayanan,
mengakui kekurangan, dan kekurangan tersebut diperbaiki secara
terus-menerus, serta menjauhi dari berbuat bohong atau menipu
- 6. Disiplin atau Konsekuen
Selanjutnya sehubungan dengan ciri-ciri etos kerja tinggi yang
berhubungan dengan sikap moral yaitu disiplin dan konsekuen, atau dalam
Islam disebut dengan amanah. Sikap bertanggungjawab terhadap amanah
merupakan salah satu bentuk akhlaq bermasyarakat secara umum, dalam
konteks ini adalah dunia kerja. Allah memerintahkan untuk menepati janji
adalah bagian dari dasar pentingnya sikap amanah.Janji
atau uqud dalam ayat tersebut mencakup seluruh hubungan, baik dengan
Tuhan, diri sendiri, orang lain dan alam semesta, atau bisa dikatakan
mencakup seluruh wilayah tanggung jawab moral dan sosial manusia. Untuk
menepati amanah tersebut dituntut kedisiplinan yang sungguh-sungguh
terutama yang berhubungan dengan waktu serta kualitas suatu pekerjaan
yang semestinya dipenuhi.
- 7. Konsisten dan Istiqamah
Istiqamah dalam kebaikan ditampilkan dalam keteguhan dan
kesabaran sehingga menghasilkan sesuatu yang maksimal. Istiqamah
merupakan hasil dari suatu proses yang dilakukan secara terus-menerus.
Proses itu akan menumbuh-kembangkan suatu sistem yang baik, jujur dan
terbuka, dan sebaliknya keburukan dan ketidakjujuran akan tereduksi
secara nyata. Orang atau lembaga yang istiqamah dalam kebaikan akan
mendapatkan ketenangan dan sekaligus akan mendapatkan solusi daris
segala persoalan yang ada. Inilah janji Allah kepada hamba-Nya yang
konsisten/istiqamah.
- Percaya diri dan Kemandirian
Sesungguhnya daya inovasi dan kreativitas hanyalah terdapat pada jiwa
yang merdeka, karena jiwa yang terjajah akan terpuruk dalam penjara
nafsunya sendiri, sehingga dia tidak pernah mampu mengaktualisasikan
aset dan kemampuan serta potensi ilahiyah yang ia miliki yang sungguh
sangat besar nilainya. Semangat berusaha dengan jerih payah diri sendiri
merupakan hal sangat mulia posisi keberhasilannya dalam usaha
pekerjaan.
- 9. Efisien dan Hemat
Agama Islam sangat menghargai harta dan kekayaan. Jika orang
mengatakan bahwa agama Islam membenci harta, adalah tidak benar. Yang
dibenci itu ialah mempergunakan harta atau mencari harta dan
mengumpulkannya untuk jalan-jalan yang tidak mendatangkan maslahat, atau
tidak pada tempatnya, serta tidak sesuai dengan ketentuan agama, akal
yang sehat dan ‘urf (kebiasaan yang baik). Demi kemaslahatan
harta tersebut, maka sangat dianjurkan untuk berperilaku hemat dan
efisien dalam pemanfaatannya, agar hasil yang dicapai juga maksimal.
Namun sifat hemat di sini tidak sampai kepada kerendahan sifat yaitu
kikir atau bakhil. Sebagian ulama membatasi sikap hemat yang dibenarkan
kepada perilaku yang berada antara sifat boros dan kikir, maksudnya
hemat itu berada di tengah kedua sifat tersebut. Kedua sifat tersebut
akan berdampak negatif dalam kerja dan kehidupan, serta tidak memiliki
kemanfaatan sedikit pun, padahal Islam melarang sesorang untuk berlaku
yang tidak bermanfaat.[4]
- E. Etika Kerja dalam Islam
Dalam memilih seseorang ketika akan diserahkan tugas, rasulullah
melakukannya dengan selektif. Diantaranya dilihat dari segi keahlian,
keutamaan (iman) dan kedalaman ilmunya. Beliau senantiasa mengajak
mereka agar itqon dalam bekerja. Sebagaimana dalam awal tulisan
ini dikatakan bahwa banyak ayat al-Qur’an menyatakan kata-kata iman yang
diikuti oleh amal saleh yang orientasinya kerja dengan muatan
ketaqwaan.
Pandangan Islam tentang pekerjaan perlu kiranya diperjelas dengan
usaha sedalam-dalamnya. Sabda Nabi SAW yang amat terkenal bahwa
nilai-nilai suatu bentuk kerja tergantung pada niat pelakunya. Dalam
sebuah hadits diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda
bahwa “sesungguhnya (nilai) pekerjaan itu tergantung pada apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tinggi rendahnya nilai kerja itu diperoleh seseorang tergantung dari
tinggi rendahnya niat. Niat juga merupakan dorongan batin bagi seseorang
untuk mengerjakan atau tidak mengerjakan sesuatu. Nilai suatu pekerjaan
tergantung kepada niat pelakunya yang tergambar pada firman Allah SWT
agar kita tidak membatalkan sedekah (amal kebajikan) dan
menyebut-nyebutnya sehingga mengakibatkan penerima merasa tersakiti
hatinya.[5]
$ygr’¯»t tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä w (#qè=ÏÜö7è?
Nä3ÏG»s%y|¹ Çd`yJø9$$Î/ 3sF{$#ur É©9$%x. ß,ÏÿYã ¼ã&s!$tB
uä!$sÍ Ä¨$¨Z9$# wur ß`ÏB÷sã «!$$Î/ ÏQöquø9$#ur ÌÅzFy$# (
¼ã&é#sVyJsù È@sVyJx. Ab#uqøÿ|¹ Ïmøn=tã Ò>#tè? ¼çmt/$|¹r’sù
×@Î/#ur ¼çm2utIsù #V$ù#|¹ ( w crâÏø)t 4n?tã &äóÓx« $£JÏiB
(#qç7|¡2 3 ª!$#ur w Ïôgt tPöqs)ø9$# tûïÍÏÿ»s3ø9$# ÇËÏÍÈ
264. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan
(pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si
penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada
manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah,
kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak
bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
kafir.[6]
Keterkaitan ayat-ayat di atas memberikan pengertian bahwa taqwa
merupakan dasar utama kerja, apapun bentuk dan jenis pekerjaan, maka
taqwa merupakan petunjuknya. Memisahkan antara taqwa dengan iman berarti
mengucilkan Islam dan aspek kehidupan dan membiarkan kerja berjalan
pada wilayah kemashlahatannya sendiri. Bukan kaitannya dalam pembangunan
individu, kepatuhan kepada Allah SWT serta pengembangan umat manusia.
Perlu kiranya dijelaskan disini bahwa kerja mempunyai etika yang
harus selalu diikut sertakan didalamnya, oleh karenanya kerja merupakan
bukti adanya iman dan barometer bagi pahala dan siksa. Hendaknya setiap
pekerjaan disampung mempunyai tujuan akhir berupa upah atau imbalan,
namun harus mempunyai tujuan utama, yaitu memperoleh keridhaan Allah
SWT. Prinsip inilah yang harus dipegang teguh oleh umat Islam sehingga
hasil pekerjaan mereka bermutu dan monumental sepanjang zaman.
Jika bekerja menuntut adanya sikap baik budi, jujur dan amanah,
kesesuaian upah serta tidak diperbolehkan menipu, merampas, mengabaikan
sesuatu dan semena-mena, pekerjaan harus mempunyai komitmen terhadap
agamanya, memiliki motivasi untuk menjalankan seperti bersungguh-sungguh
dalam bekerja dan selalu memperbaiki muamalahnya. Disamping itu mereka
harus mengembangkan etika yang berhubungan dengan masalah kerja menjadi
suatu tradisi kerja didasarkan pada prinsip-prinsip Islam.[7]
Adapun hal-hal yang penting tentang etika kerja yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
- Adanya keterkaitan individu terhadap Allah, kesadaran bahwa Allah melihat, mengontrol dalam kondisi apapun dan akan menghisab seluruh amal perbuatan secara adil kelak di akhirat. Kesadaran inilah yang menuntut individu untuk bersikap cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras memperoleh keridhaan Allah dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya. Dalam sebuah hadis rasulullah bersabda, “sebaik-baiknya pekerjaan adalah usaha seorang pekerja yang dilakukannya secara tulus.” (HR Hambali)
- Berusaha dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan. Firman Allah SWT : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)
- Dilarang memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam bekerja, semua harus dipekerjakan secara professional dan wajar.
- Islam tidak membolehkan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya dengan minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah.
- Professionalisme yaitu kemampuan untuk memahami dan melakukan pekerjaan sesuai dengan prinsip-prinsip keahlian. Pekerja tidak cukup hanya memegang teguh sifat amanah, kuat dan kreatif serta bertaqwa tetapi dia juga mengerti dan benar-benar menguasai pekerjaannya. Tanpa professionalisme suatu pekerjaan akan mengalami kerusakan dan kebangkrutan juga menyebabkan menurunnya produktivitas bahkan sampai kepada kesemrautan manajemen serta kerusakan alat-alat produksi[8]
BAB 3
PENUTUP
- A. Kesimpulan
Etos kerja merupakan semangat untuk bekerja. Bekerja itu sendiri
merupakan melakukan usaha kegiatan untuk mencapai tujuan. Adapun hadist
mengenai etos kerja diantaranya: Hadist mengenai pekerjaan yang paling
baik, larangan meminta-minta. Adapun pekerjaan yang paling baik adalah
seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan apabila berdagang
ataupun berjualan yang bersih. Adapun pekerjaan yang kurang disukai
Allah SWT ataupun dilarang adalah meminta-minta atau mengemis.
Etika kerja dalam Islam yang perlu diperhatikan adalah (1) Adanya
keterkaitan individu terhadap Allah sehingga menuntut individu untuk
bersikap cermat dan bersungguh-sungguh dalam bekerja, berusaha keras
memperoleh keridhaan Allah dan mempunyai hubungan baik dengan relasinya.
(2) Berusaha dengan cara yang halal dalam seluruh jenis pekerjaan. (3)
tidak memaksakan seseorang, alat-alat produksi atau binatang dalam
bekerja, semua harus dipekerjakan secara professional dan wajar. (4)
tidak melakukan pekerjaan yang mendurhakai Allah yang ada kaitannya
dengan minuman keras, riba dan hal-hal lain yang diharamkan Allah. (5)
Professionalisme dalam setiap pekerjaan.
End Of Post